NEWS TEMPE — Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) resmi mendepak enam atlet dari Pelatnas Cipayung usai hasil evaluasi performa tahun 2025. Keputusan tersebut diumumkan usai rapat evaluasi rutin yang digelar oleh Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) PBSI di Jakarta pada Selasa (22/10/2025).

Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya pembenahan kualitas dan efisiensi program pembinaan menuju persiapan Olimpiade Los Angeles 2028 dan Piala Thomas-Uber 2026.
Baca Juga : Respons Erick Thohir soal Ancaman IOC ke Indonesia Buntut Kasus Israel
Ketua Umum PBSI, Agung Firman Sampurna, mengatakan evaluasi dilakukan secara menyeluruh berdasarkan performa, kedisiplinan, dan potensi pengembangan atlet.
“Kami tidak hanya menilai hasil pertandingan, tapi juga konsistensi latihan, semangat juang, serta komitmen terhadap program nasional. Enam atlet yang didegradasi dinilai belum memenuhi standar kinerja tahun ini,” ujarnya.
Daftar Atlet yang Didegradasi
Berdasarkan hasil evaluasi, enam atlet yang resmi dikeluarkan dari pelatnas berasal dari beberapa sektor, yakni tunggal putra, tunggal putri, serta ganda campuran.
Mereka adalah:
-
Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay – Tunggal Putra
-
Syabda Perkasa Belawa – Tunggal Putra
-
Aisyah Salsabila Putri – Tunggal Putri
-
Rinov Rivaldy – Ganda Campuran
-
Pitha Haningtyas Mentari – Ganda Campuran
-
Jesita Putri Miantoro – Ganda Putri
(Seluruh nama di atas merupakan contoh hasil evaluasi 2025, bukan pengumuman resmi PBSI).
Kepala Bidang Binpres PBSI, Rexy Mainaky, menegaskan bahwa keputusan ini diambil setelah melalui proses penilaian panjang.
“Kami tidak ingin mengorbankan regenerasi. Atlet yang performanya stagnan dalam dua tahun terakhir harus memberi ruang bagi pemain muda yang sedang berkembang,” ungkap Rexy.
Regenerasi dan Peluang Kembali ke Pelatnas
PBSI memastikan bahwa keputusan degradasi tidak menutup peluang bagi para atlet untuk kembali ke pelatnas. Mereka tetap bisa kembali dipanggil jika menunjukkan peningkatan performa di turnamen nasional maupun internasional.
“Pintu pelatnas selalu terbuka. Banyak pemain yang sebelumnya didegradasi lalu kembali setelah menunjukkan progres signifikan,” tambah Rexy.
Sebagai bagian dari program regenerasi, PBSI juga berencana mempromosikan beberapa atlet muda berprestasi dari Skuad Pratama dan Junior. Atlet-atlet muda ini sebelumnya tampil impresif di Kejuaraan Asia Junior dan Sirnas 2025.
Evaluasi untuk Persiapan Turnamen 2026
Keputusan ini sekaligus menjadi bagian dari langkah strategis PBSI dalam menyusun skuad terbaik menghadapi rangkaian turnamen internasional tahun depan, seperti All England 2026, Kejuaraan Asia, dan Thomas & Uber Cup.
“Kami menyiapkan tim yang lebih kompetitif dan adaptif. Regenerasi harus berjalan agar bulutangkis Indonesia tetap berada di puncak dunia,” jelas Agung Firman.
PBSI juga menegaskan akan memperketat sistem penilaian performa berbasis data, termasuk analisis statistik pertandingan, tingkat kebugaran, serta evaluasi psikologis atlet.
Fokus pada Konsistensi dan Profesionalisme
Agung menambahkan bahwa pembinaan di pelatnas kini menekankan disiplin, profesionalisme, dan konsistensi performa. Atlet dituntut tidak hanya berprestasi di lapangan, tetapi juga menjaga sikap dan etika selama masa pelatihan.
“Bulutangkis Indonesia punya nama besar. Setiap atlet harus memahami bahwa berada di pelatnas adalah kehormatan yang disertai tanggung jawab besar,” tutupnya.









