NEWS TEMPE — Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Republik Indonesia menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan tani digital sebagai salah satu upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Langkah ini dinilai penting untuk mendorong produktivitas pertanian, memperluas akses pasar, dan meningkatkan kesejahteraan petani di era transformasi digital.

Menkomdigi menyampaikan bahwa sektor pertanian merupakan salah satu prioritas dalam agenda digitalisasi nasional. Dengan memanfaatkan teknologi seperti Internet of Things (IoT), big data, serta platform e-commerce pertanian, petani dapat mengelola lahan dengan lebih efisien dan menjangkau pasar secara langsung tanpa perantara panjang.
Baca Juga : Menkomdigi Ajak Lulusan Undiknas Gunakan Teknologi dengan Etika
“Digitalisasi pertanian bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Dengan dukungan teknologi, kita bisa meningkatkan hasil panen, menekan biaya produksi, dan memastikan distribusi pangan berjalan lebih efisien,” ujar Menkomdigi dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (6/11/2025).
Mendorong Akses Teknologi di Daerah
Kementerian Komunikasi dan Digital berkomitmen untuk memperluas akses jaringan internet di kawasan pedesaan dan sentra-sentra pertanian. Program Desa Digital dan Petani Cerdas Digital menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mempercepat adopsi teknologi di sektor pangan.
“Kami ingin memastikan setiap petani, bahkan di wilayah terpencil, bisa mengakses informasi harga, cuaca, dan teknik budidaya modern melalui jaringan digital. Ini adalah langkah konkret menuju kemandirian pangan,” tambah Menkomdigi.
Selain infrastruktur, kementerian juga menggandeng startup agritech dan pelaku industri teknologi untuk menghadirkan aplikasi berbasis data yang dapat membantu petani dalam pengambilan keputusan, mulai dari waktu tanam hingga pengelolaan stok hasil panen.
Kolaborasi Lintas Sektor
Pemerintah juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai kementerian, perguruan tinggi, dan sektor swasta untuk memperkuat ekosistem tani digital nasional. Menkomdigi menekankan bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada ketersediaan lahan dan tenaga kerja, tetapi juga pada kemampuan mengintegrasikan data dan inovasi.
“Pertanian modern harus terhubung dengan teknologi. Kita ingin petani Indonesia tidak hanya menjadi produsen, tapi juga pelaku ekonomi digital yang berdaya saing,” tegasnya.
Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah untuk menciptakan ekosistem pertanian digital yang inklusif dan berkelanjutan, guna mewujudkan Indonesia yang tangguh secara ekonomi dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional.









