NEWS TEMPE – Regenerasi Pesantren memegang peran penting dalam menjaga keberlanjutan pendidikan Islam di Sulawesi Selatan. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai pusat pembentukan karakter, etika, dan kepemimpinan generasi muda. Perubahan zaman menuntut pesantren untuk menyiapkan kader yang mampu menjawab tantangan sosial dan global.

Banyak pesantren di Sulawesi Selatan menghadapi persoalan regenerasi kepemimpinan. Para kiai dan pengasuh senior telah mengabdi puluhan tahun, sementara generasi penerus harus mempersiapkan diri dengan kemampuan yang relevan. Pesantren perlu membangun sistem kaderisasi yang terstruktur agar estafet kepemimpinan berjalan dengan baik.
Baca Juga : Penyebab Amrina Rachmi Eks Napi Korupsi Pupuk Gugat Kejari Jeneponto: Anak Dibully, Suami Stres
Tantangan pendidikan semakin kompleks seiring perkembangan teknologi dan arus informasi. Santri tidak hanya membutuhkan penguasaan ilmu keagamaan, tetapi juga literasi digital, kemampuan komunikasi, dan wawasan kebangsaan. Pesantren harus menyusun kurikulum adaptif yang memadukan nilai tradisi dan kebutuhan masa depan.
Peran pemerintah daerah dan masyarakat sangat menentukan keberhasilan transformasi pesantren. Dukungan berupa pelatihan tenaga pendidik, peningkatan fasilitas, serta akses teknologi dapat memperkuat kualitas pembelajaran. Kolaborasi dengan perguruan tinggi dan dunia usaha juga membuka peluang pengembangan kompetensi santri.
Regenerasi Pesantren juga menuntut perubahan pola pikir. Pesantren perlu mendorong santri untuk berinovasi tanpa meninggalkan nilai keislaman dan kearifan lokal. Dengan pendekatan ini, pesantren dapat mencetak lulusan yang religius, mandiri, dan siap berkontribusi bagi daerah.
Sulawesi Selatan memiliki potensi besar dalam pengembangan pesantren berbasis kearifan lokal. Tradisi keagamaan yang kuat menjadi modal utama untuk membangun sistem pendidikan yang relevan dan berdaya saing. Melalui regenerasi yang terencana, pesantren dapat terus berperan sebagai pilar pendidikan dan sosial.
Ke depan, pesantren harus mengambil posisi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia. Dengan kepemimpinan muda yang visioner dan dukungan semua pihak, pesantren di Sulawesi Selatan mampu menghadapi tantangan pendidikan sekaligus menjaga jati diri bangsa.









