NEWS TEMPE — Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen bukan sekadar mimpi atau “angka di langit”. Menurutnya, angka tersebut bisa dicapai secara realistis apabila pemerintah dan pelaku ekonomi terus menjaga momentum reformasi struktural, memperkuat investasi, dan meningkatkan produktivitas nasional.

Pernyataan optimistis itu disampaikan Purbaya dalam acara Forum Ekonomi Nasional 2025 di Jakarta, Jumat (31/10/2025). Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan tinggi secara berkelanjutan.
Baca Juga :Luhut Sebut Kereta Cepat Sudah Bisa Tutup Biaya Operasional
“Pertumbuhan 8 persen bukan angka di langit. Dengan kebijakan yang konsisten, efisiensi birokrasi, dan peningkatan produktivitas, Indonesia bisa mencapainya dalam beberapa tahun ke depan,” ujar Purbaya.
Fundamental Ekonomi Dinilai Kuat
Purbaya menjelaskan, stabilitas sistem keuangan nasional masih terjaga dengan baik, didukung oleh peran aktif otoritas moneter dan fiskal dalam menjaga likuiditas dan inflasi. Ia juga menyoroti bahwa sektor konsumsi dan investasi domestik terus menunjukkan tren positif setelah pandemi.
“Perbankan nasional likuid, inflasi terjaga di bawah 3 persen, dan kredit mulai tumbuh dua digit. Ini fondasi yang solid untuk mencapai pertumbuhan di atas 6 hingga 8 persen,” katanya.
Selain itu, arus investasi asing langsung (FDI) terus meningkat, khususnya di sektor manufaktur, energi hijau, dan teknologi. Menurut Purbaya, tren ini menunjukkan kepercayaan global terhadap prospek ekonomi Indonesia yang semakin membaik.
Peran Reformasi Struktural dan Hilirisasi
Lebih lanjut, Purbaya menilai keberhasilan program hilirisasi industri dan pembangunan infrastruktur strategis menjadi salah satu pendorong utama ekonomi nasional. Jika program ini dijalankan konsisten, maka potensi pertumbuhan tinggi bukan hal mustahil.
“Kuncinya ada pada reformasi birokrasi dan industrialisasi yang berkelanjutan. Hilirisasi bukan sekadar jargon, tapi motor utama yang bisa membawa kita naik kelas menjadi negara maju,” tegasnya.
Ia menambahkan, Indonesia perlu memperkuat sektor pendidikan dan teknologi agar tenaga kerja mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri modern.
Kolaborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Purbaya juga mendorong sinergi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta dalam menjaga iklim investasi yang kondusif. Ia menegaskan bahwa pertumbuhan tinggi tidak akan tercapai tanpa kolaborasi lintas sektor.
“Pemerintah sudah di jalur yang benar. Sekarang tinggal bagaimana semua pihak bekerja cepat dan efisien, tanpa birokrasi yang berbelit,” tambahnya.
Optimisme Ekonomi 2025
Menutup paparannya, Purbaya menyampaikan optimisme bahwa tahun 2025 akan menjadi momentum kebangkitan ekonomi nasional. Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki modal besar berupa demografi muda, pasar domestik kuat, serta sumber daya alam yang melimpah.
“Kita punya semua modal untuk tumbuh cepat. Yang dibutuhkan hanya konsistensi dan keberanian mengambil keputusan strategis,” pungkasnya.
Dengan sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan reformasi struktural yang kuat, Purbaya meyakini Indonesia dapat menembus pertumbuhan ekonomi 8 persen dalam jangka menengah — bukan sebagai impian, melainkan sebagai target yang realistis dan bisa dicapai.









