NEWS TEMPE – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih menunjukkan fluktuasi tinggi pada pekan ini. Berdasarkan data perdagangan pagi, rupiah dibuka di kisaran Rp15.890 per dolar AS, melemah tipis dibandingkan penutupan sebelumnya.

Analis menilai pelemahan ini disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik yang membuat mata uang Garuda masih rentan terhadap tekanan global.
Baca Juga : Tahun Depan, Lapor SPT Lewat Coretax
Ekonom Bank Mandiri, Rizky Kurniawan, mengatakan bahwa pergerakan rupiah saat ini masih dibayangi oleh ketidakpastian kebijakan suku bunga Amerika Serikat (The Fed) serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
“Selama The Fed belum memberikan sinyal pasti soal waktu penurunan suku bunga, investor akan tetap berhati-hati dan lebih memilih aset dolar,” ujarnya, Senin (13/10/2025).
Tekanan Eksternal Masih Dominan
Selain faktor The Fed, penguatan dolar juga ditopang oleh data ekonomi AS yang masih solid, termasuk pertumbuhan lapangan kerja dan inflasi yang belum turun signifikan.
Kondisi ini menyebabkan aliran modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia, masih cenderung terbatas.
Rizky menambahkan, sentimen global yang belum pulih sepenuhnya membuat rupiah sulit menguat secara konsisten. “Walaupun ada potensi penguatan jangka pendek, tekanan dari sisi eksternal tetap menjadi ancaman,” katanya.
Di sisi lain, harga minyak dunia yang terus meningkat juga menambah tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia, karena impor energi menjadi lebih mahal.
Faktor Domestik Ikut Berpengaruh
Dari dalam negeri, faktor seperti defisit neraca transaksi berjalan, kebutuhan impor tinggi menjelang akhir tahun, serta penyesuaian fiskal pemerintah turut memberikan tekanan tambahan.
Meski begitu, fundamental ekonomi Indonesia secara umum dinilai masih cukup kuat.
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menegaskan bahwa BI akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
“Kami memastikan intervensi di pasar valas dan surat berharga negara dilakukan sesuai kebutuhan. Fokus kami menjaga stabilitas agar volatilitas rupiah tetap terkontrol,” jelasnya.
BI Siapkan Langkah Antisipatif
Bank Indonesia berencana memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas fiskal untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Beberapa langkah yang disiapkan antara lain intervensi ganda, peningkatan likuiditas valas, dan penguatan cadangan devisa.
Selain itu, pemerintah juga berupaya menarik investasi asing langsung (FDI) untuk memperkuat aliran modal masuk, terutama di sektor manufaktur dan energi terbarukan.
Upaya ini diharapkan bisa menambah pasokan devisa dan menahan tekanan terhadap rupiah.
Prospek ke Depan Masih Waspada
Sejumlah analis memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp15.850–Rp15.950 per dolar AS dalam jangka pendek. Jika kondisi global membaik dan harga komoditas ekspor kembali naik, potensi penguatan masih terbuka.
Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat sentimen pasar global masih rapuh.
“Kondisi rupiah masih sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed dan situasi geopolitik global. Stabilitas akan bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan investor,” kata Rizky menegaskan.









